
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara etimologis, kata ‘hermeneutik’ atau ‘hermeneutika’ berasal dari bahasa Inggris hermeneutics. Kata hermeneutics sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuo yang berarti ‘mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata’ atau hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’ dan hermeneia yang berarti ‘penafsiran’. Kata hermeneuo juga bermakna ‘menerjemahkan’ atau ‘bertindak sebagai penafsir’. Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik adalah ‘usaha untuk beralih dari sesuatu yang relatif gelap kepada sesuatu yang lebih terang’ atau ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.[1]
Istilah hermeneutik sering diasosiasikan kepada tokoh mitologis Yunani yang bernama Hermes. Hermes adalah seorang utusan yang bertugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Sosok Hermes digambarkan sebagi seseorang yang mempunyai kaki bersayap. Dalam bahasa Latin, sosok ini lebih dikenal dengan nama Mercurius. Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu, Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan oleh pendengarnya.[2]
Dalam proses menerjemahkan pesan dewa yang dilakukan oleh Hermes tersebut terdapat faktor memahami dan menerangkan sebuah pesan ke dalam medium bahasa. Inilah sesungguhnya rahim historis yang kemudian melahirkan hermeneutik. Akan tetapi, proses hermeneutik tidak sekadar memahami, menerjemahkan, dan menjelaskan sebuah pesan. Di balik proses hermeneutik berjubel elemen-elemen lain yang saling berkait dan berkelindan, seperti praanggapan, tradisi, dialektika, bahasa, dan realitas.
Selain itu, proses hermeneutik pun dari waktu ke waktu semakin berkembang mengikuti alur dialektika manusia yang semakin kompleks. Menurut telaah Fakhruddin Faiz, dalam perkembangannya, hermeneutik memiliki tiga model, yaitu hermeneutik sebagai cara untuk memahami atau hermeneutika teoritis, hermeneutik sebagai cara untuk memahami pemahaman atau hermeneutika filosofis, hermeneutik sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman atau hermeneutika kritis.[3]
Dalam makalah ini, penulis tidak akan mengupas secara tuntas ketiga model hermeneutik tersebut. Penulis hanya akan menelaah epistemologi hermeneutik Hans-Georg Gadamer yang masuk dalam kategori hermeneutika filosofis. Selain karena tuntutan tugas mata kuliah, kajian sederhana ini juga diinspirasi oleh kehebohan karya Gadamer yang berjudul Wahrheit und Methode. Grundziige einer philosophischen Hermeneutik [Kebenaran dan Metode: Sebuah Hermeneutika Filosofis Menurut Garis Besarnya] (1960).[4] Karena karyanya ini ia menjadi filusuf yang terkenal di bidang hermeneutika.[5]
B. Identifikasi Masalah

C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sketsa biografi Gadamer dan karya-karyanya?
2. Bagaimana latar belakang pemikiran hermeneutika Gadamer?
3. Bagaimana teori pemahaman dan konsep kebenaran Gadamer?
4. Bagaimana lingkaran hermeneutika Gadamer?
5. Bagaimana kritik Gadamer terhadap tokoh sebelumnya?
D. Tujuan Masalah
Dari rumusan di atas dapat di ambil tujuan sebagai berikut :
1. Agar mahasiswa mengetahui sketsa biografi Gadamer dan karya-karyanya
2. Agar mahasiswa mengetahui latar belakang pemikiran hermeneutika Gadamer
3. Agar mahasiswa mengetahui teori pemahaman dan konsep kebenaran Gadamer
4. Agar mahasiswa memahami lingkaran hermeneutika Gadamer
5. Agar mahasiswa mengetahui kritik Gadamer terhadap tokoh sebelumnya
![]() |

SKETSA BIOGRAFIS GADAMER
A. Riwayat Hidup dan Pribadi Gadamer
Sangat wajar jika ada orang yang tak begitu hirau dengan biografi filosof, bahkan biografi yang bagus sekalipun, sebab apa atau bagaimana sesungguhnya hidup sebagai seorang filosof. Gadamer punya jawaban sendiri, “para filosof adalah para pemikir dan identitas mereka biasanya ditemukan di dalam kesinambungan pemikiran mereka, sementara biografi tidak lebih dari sekedar renda pinggir”. Gadamer menggelari kerja dan karyanya bukan dengan filsafat hermeneutis, filsafat hermeneutika atau filsafat saja, melainkan dengan hermeneutika filosofis untuk membedakannya dari hermeneutika yang selama ini dikenal. Bahkan filsafat bukanlah tujuan dari hermeneutika filosofis, filsafat adalah sarananya. Dalam gaya hiperbolis, dapat dinyatakan bahwa apa yang selalu dituju oleh hermeneutika Gadamer adalah kehidupan.[6]
Hans Georg Gadamer merupakan salah satu tokoh yang sangat terkenal, diantara para tokoh filsafat hermeneutik. Hans Georg Gadamer dilahirkan di kota Breslau pada 11 Februari 1900.[7] Ia belajar filsafat diantaranya pada Nikolai Hartman dan Martin Heidegger, serta mengikuti kuliah Rudolf Bulman seorang teolog Protestan yang cukup popular.[8] Ketertarikan Gadamer pada filsafat sempat ditentang oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang profesor kimia di sebuah universitas. Ayahnya dianggap sebagai ahli terpandang dibidangnya. Menurut ayah Gadamer, filsafat, kesusastraan, dan ilmu-ilmu humaniora pada umumnya bukan merupakan ilmu pengetahuan yang serius. Akan tetapi, Gadamer tidak mendengar perkataan ayahnya. Ia berpegang teguh pada pilihannya untuk memperdalam filsafat. Tetapi sayang, sang ayah yang tidak merestui pilihan sang anak tidak sempat menyaksikan keberhasilan Gadamer sebagai seorang filsuf, karena sudah meninggal pada tahun 1928.[9]
Gadamer terlahir sebagai anak kedua di tengah keluarga pasangan Emma Caroline Johanna Gewiese (1869-1904) dan Dr. Johannes Gadamer (1867-1928) di kota Marburg, sebuah kota di bagian selatan Jerman. Sejak usia dua tahun, ia pindah ke kota Breslau (sekarang dikenal dengan nama Wroclau,Polandia) karena ayahnya diminta jadi profesor luar biasa di Universitas Breslau. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga penganut protestan yang taat dan konservatif, serta memiliki sikap yang puitis dan lembut kebalikan dari ayahnya yang keras dan penuh disiplin ala budaya Prusia. Ibunya meninggal pada saat Gadamer berusia empat tahun karena penyakit diabetes. Walaupun besar dalam keluarga Protestan yang taat, tetapi ia memilih bungkam jika ditanya tentang imannya.[10]
Ayah gadamer memiliki disiplin yang ketat dalam bidang akademisi, semenjak yunior ia menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Holy Gost School dari tahun 1907 sampai 1918, ia menunjukkan minat yang bersebrangan dengan ayahnya. Gadamer lebih tertarik dengan ilmu-ilmu Humaniora, khususnya sastra dan filologi. Setelah itu ia mendaftar di Universitas Breslau, ayahnya ingin Gadamer memasuki fakultas eksak, padahal sejak di pendidikan menengah dia sudah tertarik dengan sastra dan filsafat. Namun, keinginan Gadamer memasuki fakultas non-eksak tetap terwujud, karena bagaimanapun sebagai seorang ilmuwan yang sangat rasional, Johannes mau tak mau harus menerima pendapat anaknya hanya karena ingin dipandang demokratis.[11]

Petualangan intelektual Gadamer di bidang filsafat dimulai di Universitas Breslau. Kemudian, Gadamer pindah ke Marburg mengikuti kepindahan ayahnya ke kota tersebut. Di kota ini, Gadamer belajar filsafat kepada sejumlah filsuf, di antaranya Paul Natorp, Nicolai Hartmann, dan Rudolf Bultmann. Pada tahun 1922, Gadamer berhasil meraih gelar doktor filsafat dengan sebuah disertasi tentang Plato. Beberapa bulan setelah lulus ujian disertasi, dia terjangkit polio yang membuat kakinya pincang seumur hidup. Selama dalam perawatan, Gadamer menghabiskan waktu untuk melahap buku-buku utama filsafat, diantaranya karya-karya Kant dan Husserl. Sesembuhnya dari sakit, dia menikahi Frida Kartz. Pernikahan ini menandai lepasnya Gadamer dari bayang-bayang ayahnya, dan mulai saat itu dia akan didampingi oleh seorang istri yang akan merawatnya. Walaupun pada akhirnya pernikahan ini kandas dengan perceraian tahun 1947, akibat perselingkuhan Frida Gadamer dengan sejawatnya, Warner Krauss.[13]

Pada periode nasional-sosialisme Hitler, Gadamer tidak melibatkan diri dalam kancah politik. Walaupun demikian, ketika pada tahun 1933 muncul anjuran kepada para profesor dan tenaga pengajar di Jerman supaya menandatangani pernyataan dukungan terhadap Hitler, Gadamer tidak menolaknya. Akhirnya, pada tahun 1936, Gadamer diangkat menjadi profesor di bidang filsafat. Selanjutnya, pada tahun 1939, Gadamer dipanggil ke Universitas Leipzig di Jerman Timur untuk diangkat sebagai guru besar penuh. Setelah selesai Perang Dunia II (1945), kota Leipzig termasuk wilayah yang ada di bawah pengawasan Uni Soviet dan dimasukkan ke dalam wilayah Jerman Timur yang komunis. Berkat keuletannya bekerja sebagai guru besar, akhirnya Gadamer diangkat sebagai dekan fakultas filsafat, untuk selanjutnya diangkat sebagai rektor universitas.[15]

Akan tetapi, Gadamer tidak dapat bertahan lama memegang jabatan tersebut. Karena tekanan rezim komunis sehingga membuat penelitian dipersulit, Gadamer hijrah ke Jerman Barat. Pada tahun 1948, Gadamer bekerja di Frankfurt am Main. Selanjutnya, pada tahun 1949, Gadamer menggantikan posisi Karl Jaspers di Universitas Heidelberg. Akhirnya, Heidelberg menjadi tempat yang kondusif bagi karier Gadamer sampai memasuki masa pensiun pada tahun 1968. Setelah pensiun, Gadamer sering mengisi ceramah di Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa tempat lain. Walaupun telah memasuki usia lanjut, Gadamer tetap sering mengikuti diskusi-diskusi filosofis dan termasuk salah seorang filsuf yang paling populer di Jerman.
Sampai wafat pada tanggal 13 Maret 2002 di Rumah Sakit Universitas Heidelberg, Gadamer telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting abad XX, di antaranya Revolusi Bolshevik di Rusia, dua Perang Dunia, terbelahnya Jerman menjadi dua blok, keruntuhan Tembok Berlin tahun 1989, dan yang paling akhir, peristiwa 11 September 2000. Hanya ada beberapa ringkas catatan dari kehidupan pribadi Gadamer yang sekiranya signifikan bagi pembicaraan hermeneutis, yaitu:[17]
1. Karena proyek utama yang melambungkan nama Gadamer adalah persoalan kebenaran, maka hal ini pastilah mengundang tanya perihal keyakinan religius Gadamer
2. Minat Gadamer pada ilmu humaniora secara umum agaknya merupakan antitesis dari minat dan keyakinan ayahnya yang begitu ketat bagaikan rumus-rumus kimia dalam mendidik dia.
3. Sebagai seorang pengagum Plato, Gadamer adalah pemikir besar yang enak di ajak bercengkerama. Gadamer sering dipandang oleh para kritikus sebagai seorang yang konservatif, karena sikapnya yang sangat terbuka dalam berdialog, serta berfikir pelan dan hati-hati sambil memerhatikan lontaran lawan bicara. Dari sini dapat dilihat bahwa pemikiran hermeneutis Gadamer dalam Truth and Method memang terwujud ke dalam perilaku sehari-hari.
B. Gadamer sebagai Seorang Filosof
Perjalanan biografi intelektual Gadamer dapat di belah menjadi dua dengan penerbitan Truth and Method sebagai pemisahnya. Sebelum karya ini d terbitkan, peristiwa penting yang menjadi tonggak perjalanan intelektual Gadamer adalah perselisihan pendapat Gadamer dengan ayahnya. Sebagaimana yang dia katakana sendiri, bujukan ayahnya justru semakin memperkuat keinginan dia mendalami Geisteswissenschaften di Universitas Breslau dan kemudian di Universitas Marburg. Peristiwa selanjutnya adalah perkenalan dan persahabatannya dengan Heidegger yang berlngsung sekitar tahun 1923-1928. Perkenalan ini di awali sebuah teks yang sampai ke tangan Gadamer melalui profesor Paul Natorp, teks tersebut membahas Aristoteles adalah karya Heidegger yang pada waktu itu menjadi asisten muda Husserl di Freiburg.[18]

Hubungan Gadamer dengan Heidegger rumit, karena mereka adalah murid dan guru sekaligus sahabat, namun pernah tak terjadi tegur sapa selama beberapa tahun. Penyebabnya adalah keterlibatan Heidegger dengan politik Nazi, tetapi setelah Heidegger mengundurkan diri dari jabatan rector Universitas Marburg (1934) mereka berhubungan lagi. Tahun-tahun berikutnya Gadamer terlunta-lunta oleh perang dan suasana pasca perang. Setelah menerima kedudukan sebagai rector Universitas Leipzig, Gadamer merasa tidak nyaman di Leipzig, karena di bawah kekuasaan komunis dan Gadamer melirik tempat lain yaitu Universitas Frankfurt. Namun, tempat ini tidak kondusif untuk mengajar dan meneliti karena itu dia menerima tawaran dari Universitas Heidelberg tahun 1949. Setalah menetap di Heidelberg dia mulai merintis karier profesionalnya dalam filsafat. Di tahun 1948 dia menerjemahkan buku XII Metaphysics karya Aristoteles dan tahun 1949 menyunting karya Dilthey, Sketch of a General History of Philosophy. Di tahun 1953 ia punya kesempatan untuk mendirikan jurnal filsafat bernama Philosophische Rundschau bersama Helmut Kuhn.[20]

Perbedaan pendapat Gadamer dengan gurunya, disebabkan keyakinan Gadamer akan orientasi hermeneutika dalam filsafat. Hermeneutika pasti berkaitan dengan soal memahami orang lain, maka itu tidak akan terlepas dari hal ihwal etis dan politis. Salah satu jalan keluar dari silang sengkarut persoalan etika dan politik kontemporer adalah kembali berkaca pada kearifan yang diajarkan Plato lewat dialog sokratisnya, bahwa bagaimanapun tidak tertutup kemungkinan orang lain (pihak lawan) berada di pihak yang benar.[22]
C. Karya-karya Gadamer
Gadamer mempublikasikan karya-karyanya ke dalam berbagai bahasa di dunia. Keseluruhannya telah dikumpulkan pada edisi khusus sebanya 10 jilid Gesammelte Werke (The Complete Works). Berikut ini akan di jelaskan secara singkat proses penulisan dan penerbitan karya utamanya dan diikuti karya yang lainnya.
1.Truth and Method

Dalam bahasa Inggris daftar bibliografi dapat dilihat Etsuro Makita’s Gadamer Bibliographie: 1922-1994 (New York: Peter Lang, 1994) dan juga dapat ditemukan dalam Hans-Georg Gadamer: A Biography (New Haven: Yale University, 2004). Karyanya dalam bahasa Jerman adalah Gesammelte Werke 10 vols (Tubingen: Mohr Siebeck, 1986-1995) dan yang belum termuat adalah :
1. Der Anfong der Philosophie. Stuttgart: Reclam, 1996
2. Das Erbe Europas: Beitrnge. Frankfurt: Suhrkamp, 1989
3. Uber die Verbongenheit der Gesundheit. Frankfurt: Suhrkamp, 1993
4. Hermeneutische Entwiirfe. Tubingen: Mohr Siebeck, 2000, dll
![]() |

PEMIKIRAN HANS GEORG GADAMER
A. Latar Belakang Pemikiran Hermeneutika
Hans Georg Gadamer adalah penulis kontemporer dalam bidang hermeneutik yang sangat terkemuka. Karyanya berjudul Wahrheit and Methode (Kebenaran dan Metode) banyak beredar di perpustakaan dan sirkulasi filsafat. Walaupun judul bukunya Kebenaran dan Methode, sebenarnya Gadamer tidak bermaksud menjadikan hermeneutika sebagai metode dan berada jauh dari kebenaran. Sebenarnya yang ingin ia tekankan adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism bukan metodologis. Menurut Gadamer kebenaran menerangi metode-metode individual, sedangkan metode justru menghalangi atau menghambat kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode melainkan melalui dialektika.[24]
Dalam Kebenaran dan Metode karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “Permainan”. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni, permainan dapat dijadikan kerangka berfikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutika. Pemahaman mendampingi kita pada saat menghadapi objek-objek di dunia ini. Kita tidak menyadari hal itu kita memahami bahwa kita mengerti itu tidak penting bagi kita namun tanpa kesadaran itu, kita tidak dapat menangkap objek yang kita hadapi. Contohnya saja pada setiap permainan mempunyai aturan atau dinamika sendiri yang bersifat independen terhadap kesadaran para pemainnya. Namun untuk dapat bermain dengan baik, pertama-tama orang harus mengetahui lebih dahulu aturan-aturan dan dinamikanya. Sesudah seseorang menguasai aturan-aturan dan dinamika permainan tersebut, maka segera ia tidak menyadari adanya peraturan tersebut, bahkan ia juga tidak menyadari permainan itu sendiri. Gadamer juga menolak konsep hermeneutika sebagai metode, meskipun menurut dia hemeneutika adalah pemahaman, namun ia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis.[25]
Hans Georg Gadamer adalah filosof mahaguru di Universitas tertua di Jerman, sekaligus raksasa pemikir abad XX, yang memiliki latarbelakang pendidikan filologi, kebudayaan dan filsafat. Pandangannya tentang hermeneutika antara lain adalah:[26]
1. Hermeneutika merupakan suatu usaha filsafati untuk mempertanggung jawabkan pemahaman sebagai proses ontologism di dalam manusia. Pemahaman bukan proses subyektif ataupun metode obyektifitas melainkan modus existendi manusia. Karena setiap pemahaman merupakan peristiwa historical, dialektik dan kebahasaan.
2. Meskipun hermeneutic adalah pemahaman itu tidak bersifat metodis, tapi ontologism-dialektis.
3. Untuk dapat memahami sebuah teks kita harus membuang jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang dikatakan oleh sebuah teks.
4. Sebuah teks baik itu berupa peraturan perundang-undangan maupun kitab suci, harus dipahami setiap saat, dalam setiap situasi khusus, dalam cara yang baru dan berbeda dengan yang lama, jika hal tersebut ingin dipahami sebagaimana mestinya.
5. Emapat faktor yang terdapat pada interpretasi :[27]
a. Bildung yakni pembentukan jalan pikiran
b. Sensus communis yakni pertimbangan praktis yang baik
c.
Pertimbangan yakni menggolongkan hal-hal yang khusus atas dasar pandangan tentang yang universal

d. Selera yakni keseimbangan antara insting panca indera dengan kebebasan intelektual.
B. Teori Pemahaman
Gadamer lebih menekankan pemandangan Heidegger bahwa mengerti merupakan suatu proses yang melingkar. Untuk mencapai pengertian seseorang harus bertolak dari pengertian, misalnya untuk mengerti suatu teks maka harus memiliki pra pengertian tentang teks tersebut. Hal inilah yang oleh Gadamer diistilahkan dengan “lingkaran hermeneutis”, akan tetapi tidak dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa lingkaran ini muncul jika kita membaca suatu teks.[28]
Bagi Gadamer hakikat hermeneutika adalah ontologi dan fenomenologi pemahaman yakni, apa hakikat pemahaman dan bagaimana mengungkapkannya sebagaimana adanya. Sejalan dengan tesis Heidegger yang mengatakan bahwa ada secara radikal historikal sifatnya, begitu pula Gadamer mengatakan bahwa pemahaman bersifat historikal. Hal ini berarti bahwa pemahaman, bahkan manusia itu sendiri dikuasai oleh sejarah. Sejarah dan masa lalu adalah suatu struktur dengan pemahaman juga pengetahuan, pikiran kita. gerak historikal merupakan inti pemahaman. Umumnya tanpa disadari, pemahaman adalah hasil interaksi masa lalu dan masa kini.[29]

Gadamer membedakan dua bentuk pemahaman, yaitu pemahaman terhadap truth content dan pemahaman terhadap intention. Memahami truth content atau makna yang dikandung dalam suatu proposisi berarti memahami substansi materi pokok dalam suatu teks atau proposisi. Misalnya seseorang memahami teori geometri Euclid, teori merton, fungsi manifest dan fungsi laten, di sini memahami berarti mengetahui kebenaran sesuatu pemahaman jenis ini mencakup pemahaman terhadap materi pokok. Berbeda dengan pemahaman yang kedua Intention adalah memahami kondisi atau situasi di balik tindak ucapan atau tindak perbuatan, yakni memahami kondisi ekstra mengapa seseorang melakukan tindak pembunuhan yang jelas merupakan tindakan salah, apalagi terhadap keluarganya sendiri. Pemahaman jenis ini membutuhkan pemahaman terhadap kondisi pelaku, kondisi psikologi, atau situasi yang melingkunginya. Ucapan yang mudah dipahami adalah yang masuk akal, demikian pula tindakan.[32]

Dalam proses pemahaman dan interpretasi dengan sistem dialektika ini, Gadamer meniscayakan empat faktor yang tidak boleh diabaikan.[34]Pertama, bildung atau pembentukan jalan pikiran. Dalam kaitannya dengan proses pemahaman atau penafsiran, jika seseorang membaca sebuah teks, maka seluruh pengalaman yang dimiliki oleh orang tersebut akan ikut berperan. Dengan demikian, penafsiran dua orang yang memiliki latar belakang, kebudayaan, usia, dan tingkat pendidikan yang berbeda tidak akan sama. Dalam proses penafsiran, bildung sangat penting. Sebab, tanpa bildung, orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. Singkatnya, orang tidak dapat menginterpretasi ilmu-ilmu tersebut dengan caranya sendiri.

Singkatnya, kerangka pemikiran (worldview) dan pengetahuan (self-knowledge) manusia dibentuk dan mewujud dalam seluruh proses sejarah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tugas utama hermeneutik adalah memahami teks (baca: sejarah dan tradisi) dan hakikat pengetahuan dalam tradisi hermeneutik filosofis Gadamer adalah pemahaman atau penafsiran (verstehen) terhadap teks tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi sang penafsir.[35]
C. Konsep Kebenaran Gadamer
Nyaris menjadi aksioma bagi pembaca filsafat di pihak Atlantik ini untuk memikirkan kebenaran sebagai suatu atribut kalimat bukan sesuatu. Ini tampak masuk akal jika seseorang mengatakan, memang benar seorang ibu telah menggorengkan telur untuk sarapan pagi di pagi itu, maka pengakuan kebenaran itu tidak menambah rincian lain bagi manusia, masakan atau karakteristik temporal dari peristiwa yang dilaporkan, tetapi hanya menegaskan keyakinan pembicara bahwa deskripsi linguistic yang dikemukakan ihwal peristiwa itu memang akurat. Dengan kata lain, tambahan benar atau salah pada sebuah kalimat tidak menambah apa-apa pada deskripsi yang dikemukakan kalimat itu tentang realitas eksternal.

D. Lingkaran Hermeneutika Gadamer
Gadamer menekankan, bahwa mengerti mempunyai struktur lingkaran. Maksudnya, agar seseorang dapat mengerti, maka sudah harus ada pengertian dan untuk mencapai pengertian, haruslah bertolak dari pengertian. Mudahnya, untuk mengerti suatu teks, sebelum itu telah ada pengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu. Tanpa hal tersebut, tidak mungkin seseorang memperoleh pengertian tentang teks tersebut. Jadi dengan membaca teks tersebut, prapengertian terwujud dalam pengertian yang sungguh-sungguh. Proses itulah yang disebut sebagai lingkaran hermeneutika oleh Heidegger dan Gadamer. Meski begitu, lingkaran sudah terdapat pada taraf yang paling fundamental, yang menandai keberadaan seseorang. Atau, mengerti tentang dunia bisa menjadi mungkin, jika telah ada prapengertian tentang dunia dan diri kita sendiri, yang memungkinkan keberadaan kita.[37]
E. Kritik Hans Georg Gadamer

Walaupun Gadamer termasuk pengagum Schleiermacher dan Dilthey, dan pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Schleiermacher dan Dilthey, tetapi Gadamer juga banyak memberikan kritik terhadap pemikiran dua tokoh romantik ini. Pertama, Gadamer keberatan dengan pendapat Schleiermacher dan Dilthey yang menerangkan bahwa hermeneutik bertugas menemukan makna asli sebuah teks. Menurut Gadamer, interpretasi tidak sama dengan mengambil suatu teks lalu mencari makna yang dikehendaki oleh pengarang teks tersebut. Bagi Gadamer, arti suatu teks tetap terbuka dan tidak terbatas pada maksud pengarang teks tersebut.[40] Karena itu, interpretasi tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif.[41]

Ketiga, Gadamer juga mengkritik secara tajam konsep “tradisi’ dan “prasangka” yang digagas para pengusung hermeneutika romantis. Menurut tradisi hermeneutika romantis, dalam menafsirkan suatu teks, prasangka harus dihindarkan jauh-jauh. Menurut para pemikir hermeneutika romantis, prasangka (prejudice) hanya memiliki arti kurang baik dan bertentangan dengan kebenaran. Gadamer menolak pandangan ini. Menurut Gadamer, dalam memahami suatu teks, kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka. Akan tetapi, bukan berarti interpretasi menjadi suatu usaha yang subjektif dan tidak kritis. Oleh karena itu, kita harus membedakan antara prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim, serta antara prasangka yang sah dan prasangka yang tidak sah. Demikian pula, sementara hermeneutika romantis menafikan otoritas suatu tradisi, Gadamer justru mengakuinya. Menurut Gadamer, walaupun kita mengakui otoritas suatu tradisi dan bahkan menjadi bagian dari tradisi, tetapi hal itu tidak akan menghambat pengenalan kita terhadap suatu teks. Sebaliknya, tradisi justru akan membantu kita dalam proses pemahaman.[42]



PENUTUP
A. Kesimpulan
Gadamer menggelari kerja dan karyanya bukan dengan filsafat hermeneutis, filsafat hermeneutika atau filsafat saja, melainkan dengan hermeneutika filosofis untuk membedakannya dari hermeneutika yang selama ini dikenal. Bahkan filsafat bukanlah tujuan dari hermeneutika filosofis, filsafat adalah sarananya. Bagi Gadamer hakikat hermeneutika adalah ontologi dan fenomenologi pemahaman yakni, apa hakikat pemahaman dan bagaimana mengungkapkannya sebagaimana adanya. Gadamer mengatakan bahwa pemahaman bersifat historikal. Hal ini berarti bahwa pemahaman, bahkan manusia itu sendiri dikuasai oleh sejarah. Sejarah dan masa lalu adalah suatu struktur dengan pemahaman juga pengetahuan, pikiran kita. Menurut Gadamer, pemahaman selalu dapat diterapkan pada keadaan kita pada saat ini, meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah, dialektik dan bahasa. Oleh karena itu pemahaman selalu mempunyai posisi, misalnya posisi pribadi kita sendiri saat ini pemahaman tidak pernah bersifat objektif dan ilmiah. Sebab pemahaman bukanlah mengetahui secara statis dan di luar kerangka waktu, tetapi selalu dalam keadaan tertentu. Gadamer menekankan, bahwa mengerti mempunyai struktur lingkaran. Maksudnya, agar seseorang dapat mengerti, maka sudah harus ada pengertian dan untuk mencapai pengertian, haruslah bertolak dari pengertian. Mudahnya, untuk mengerti suatu teks, sebelum itu telah ada pengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu.
1.
Saran

Kami sebagai penulis tidak luput dari kesalahan, karena kami hanyalah manusia biasa. Karena itu kami berharap adanya kritik dan saran untuk memperbaiki tulisan kami agar mudah dipahami oleh pembaca dan menjadi lebih baik dari ini.

E.Sumaryono, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1995)
J.Howard, Roy, Hermeneutika editor: Ninuk Kleden-Probonegoro,(Bandung: Nuansa: 2000)
Gadamer, Hans-Georg. Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2004)
Josef Bleicher, Hermeneutika Kontemporer, terj. Imam Khoiri,(Yogyakarta: Fajar Pustaka: 2007)
Afandi, Abdullah Khozin, Hermeneutika, (Surabaya: Alpha: 2007)

al Jauhari, Imam Chanafie, Hermeneutika Islam: Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, (Yogyakarta: Ittaqa Press: 1999)
K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 2002)
Muzir, Inyiak Ridwan, Hermeneutika filosofis Hans Georg Gadamer,(Jogjakarta: ar-Ruzz, 2010)
Chalik, Abdul, Laporan Penelitian Individual: Hermeneutika untuk Kitab Suci,(Surabaya:2010)
Faiz, Fakhruddin, Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005)
Kaelan, Filsafat Bahasa:Realitas Bahasa Hermeneutika dan Postmodernisme, (Yogyakarta: Paradigma: 2002)
[1]E.Sumaryono, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 23-24
[2]Ibid
[3]Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), hlm. 8-11.
[4]Edisi bahasa Inggris-nya berjudul Truth and Method (New York: The Seabury Press, 1965). Adapun edisi bahasa Indonesia-nya berjudul Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
[5]Kaelan, Filsafat Bahasa:Realitas Bahasa Hermeneutika dan Postmodernisme, (Yogyakarta: Paradigma: 2002), 207
[6]Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika filosofis Hans Georg Gadamer,(Jogjakarta: ar-Ruzz, 2010), 37-38
[7] Ibid, 38
[8]Abdul Chalik, Laporan Penelitian Individual : Hermeneutika untuk Kitab Suci,(Surabaya:2010), 24
[9]K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 2002), 254
[10]Inyiak Ridwan Muzir, Op.cit, 40
[14]K. Bertens, Op.cit, 254-255
[16]Inyiak Ridwan Muzir, Op.cit, 45-46
[24]E.Sumaryono, Op.cit, 63
[26]Imam Chanafie al Jauhari, Hermeneutika Islam: Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, (Yogyakarta: Ittaqa Press: 1999), 35
[28]Kaelan, Op.cit., 207-208
[29]Poespoprodjo, Hermeneutika, (Bandung: Pustaka Setia: 2004), 94-95
[30]E. Sumaryono, Op.cit,76
[31]Josef Bleicher, Hermeneutika Kontemporer, terj. Imam Khoiri,(Yogyakarta: Fajar Pustaka: 2007), 166
[32]Abdullah Khozin Afandi, Hermeneutika, (Surabaya: Alpha: 2007), 81-82
[33]Kaelan, Op.cit., 208
[34]Hans-Georg Gadamer. Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2004), 10
[35]E. Sumaryono, Op.cit, hlm. 80
[36]Roy J.Howard, Hermeneutika editor:Ninuk Kleden-Probonegoro,(Bandung: Nuansa: 2000), 177-178
[37] K. Bertens, Op. Cit., hal. 258.
[38]K. Bertens, Filsafat Barat, . 256-257
[40]E. Sumaryono, Hermeneutik, 109
[41]K. Bertens, Filsafat Barat, 263.
[42]K. Bertens, Filsafat Barat, 264-265.