Senin, 15 November 2010

Israiliyat alquran


BAB II
PEMBAHASAN
  1. Definisi dan sejarah munculnya riwayat Israliyat
Israliyat merupakan bentuk plural (jamak) dari lafadh Israiliyah, yaitu bentuk kata yang dinisbatkan pada Bani Israil. Menurut Shobir Abdurrohmah Tuaimah Israil adalah bahasa Ibrani yang tersusun dari dua suku kata, “ isra” yang berarti hamba atau seorang pilihan dan “ il “ yang berarti Allah, jadi Israil berarti Abdullah atau seorang hamba Allah[1]. Adapun yang dimaksud dengan riwayat Israiliyah adalah kisah-kisah yang berasal ahli kitab baik Yahudi maupun Nasrani yang masuk kedalam penasiran Al Qur'an, kisah-kisah tersebut dinisbatkan kepada pihak Yahudi (Bani Israil) karena yang paling dominan adalah Yahudi[2].  Ahmad Kholil dalam bukunya Dirasah fi Al Qur'an berpendapat bahwa Israliyat adalah kisah-kisah yang diriwayatkan dari ahli kitab, baik yang berhubungan dengan ajaran Agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya[3].
Munculnya kisah-kisah Israliyat kedalam budaya arab disebabkan masuknya orang-orang Yahudi secara besar-besaran ke tanah Arab pada tahun 70 M. Orang-orang yahudi tersebut membentuk komunitas-komunitas yang sebagian besar tinggal di Yastrib (Madinah) seperti komunitas Bani Qoiquniqo’, Bani Nadzir dan Bani Quraidhoh sedangkan komunitas lainya tinggal didaerah yang cukup jauh, seperti Khaibar, Taimah, Fada’ dan Wadi’ Al Qura’. Pada era Rasullulah riwayat Israliyat tidak banyak berkembang dalam penafsiran Al Qur'an, karena semua permasalahan yang berhubungan dengan Al Qur'an langsung ditanyakan kepada Rasulullah, kendati demikian Rasulullah tidak melarang untuk menerima informasi atau menyebarkan informasi dari Bani Isara’il sebagaimana sabda beliau[4]:
بلغوا عني ولو اية, وحدثوا عن بني اسرائيل ولا حرج, ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار(رواه البخاري)
"Artinya sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah apa yang kamu dengar dari Bani Isra’il, dan hal itu tidak ada Salahnya, dan barang siapa berdusta atas namaku maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya dineraka. (HR. Bukhori.)"
Demikian juga dalam Hadits lain Beliau bersabda[5] :
لاتصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا امنا بالله وماانزل الينا(رواه البخاري)
" Artinya : Janganlah kamu benarkan ahli kitab dan jangan pula kamu mendustakannya tapi katakan”kami beriman kepada Allah dan yang telah diturunkan kepada kami(HR. Bukhori)"
Namun pada masa Sahabat riwayat Israliyat semakin tersebar disebabkan orang yang dimintai penjelasan (Rasulullah) sudah Wafat dan juga dikarenakan adanya persamaan antara Al Qur'an dengan riwayat Israliyat, hanya saja para Sahabat mengambil riwayat Israliyat pada term-term yang tidak berhubungan dengan akidah dan hukum[6].


  1. Proses Masuknya Riwayat Israliyat kedalam Tafsir Al Qur'an
Islamnya tokoh penting kaum yahudi seperti Abdullah bin Salam, Ka’ab Al Akhbar, Wahab bin Munabih, Abdul Malik bin Abdul Aziz menyebabkan kisah-kisah Israliyat semakin kental dengan Al Qur'an, lebih-lebih setelah ditemukan titik persamaan antara kisah-kisah Al Qur'an dengan kisah-kisah Israliyat walaupun sebagian yang lain timbul paradoks.
Pada sisi lain Al Qur'an menyajikan penampilan yang berbeda dengan Taurat dan Injil sebagai sumber kisah-kisah Israliyat. Al Qur'an menyajikan kisah-kisah yang mengandung nasihat dan pelajaran secara global sedangkan Taurat dan Injil lebih rinci dan detail dalam mengupas kisah-kisah tersebut, hal ini kemudian menjadi inspirasi para mufassir untuk memasukan unsur-unsur riwayat Israliyat kedalam penafsiran Al Qur'an. Ketika Al Qur'an berbicara tentang kisah Adam dan iblis dalam surat Al Baqarah dan surat Al A’raf misalnya, Al Qur'an tidak menyebutkan secara rinci letak surga, nama pohon yang tidak boleh dimakan dan bentuk iblis yang mengoda Nabi Adam dan hawa. Sedangkan Taurat lebih rinci menerangkan kisah Adam dan iblis, dalam Perjanjian pasal dua sampai tiga dikisahkan bahwa surga yang ditempati adam adalah surga "Adn," disebelah timur, pohon yang terlarang yang dimaksud adalah pohon kehidupan yaitu pohon kebaikan dan pohon kejahatan, sedangkan iblis yang menghasut itu berbentuk seekor ular. sebagai sangsi atas kedurhakaan Adam yang terperdaya oleh iblis akhirnya diberi sangsi oleh Allah berupa kehamilan istrinya dan keturunannya[7].
Kendati demikian sekali lagi para mufassir tidak serta merta menafsirkan Al Qur'an dengan riwayat Israliyat, mereka mengadopsi riwayat-riwayat Israliyat hanya untuk menafsirkan kisah-kisah sejarah yang tidak ada sangkut pautnya dengan ketetapan hukum dan akidah.

  1. Klasifikasi Riwayat Israliyat
Riwayat-riwayat Israliyat dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu[8] :
Pertama riwayat Israliyat yang di pandang benar yaitu jika berkesesuaian dengan al Qur'an dan Sunnah. posisi riwayat Israliyat di sini hanya sebagai pembanding bukan rujukan utama. Riwayat Israliyat semacam ini diperbolehkan untuk meriwayatkannya sebagai argumen untuk membenarkan terhadap apa-apa yang telah termaktub dalam kitab-kitab sebelumnya sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Kahfi ayat 65, Allah tidak menyebutkan dengan jelas nama seorang hamba yang menemani Nabi Musa. Allah hanya menyebutkan "hamba dari kalangan hamba-hamba kami(Allah) yang kami berikan rahmat dan kami ajarkan ilmu di sisi kami". sedangkan riwayat Israliyat menyebutkan bahwa hamba Allah itu bernama Khidir.
Kedua riwayat Israliyat yang diketahui kebohonganya yaitu apabila bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah atau sulit dicerna oleh akal sehat seperti kisah bahwa kapal Nabi Nuh tawaf di sekeliling Ka'bah dan shalat di makam Nabi Ibrohim dua raka'at ini semua dusta dan tidak masuk akal karena Nabi Nuh hidup sebelum Nabi Ibrohim.
Ketiga riwayat Israliyat yang didiamkan yaitu apabila riwayat Israliyat berpotensi untuk diterima dan juga ditolak, seperti nama-nama Ashab al Kahfi dan kisah seorang pemuda pada zaman Nabi Musa yang membunuh pamannya sendiri  lantaran tidak diperbolehkan menikah dengan putri pamannya.[9]

  1. Pendapat Ulama
Para ulama kita, seperti Imam Malik, Ibnu Hajar Asyqolani, Ibnu Taimiyah, Imam Baqa'i merumuskan hukum menafsirkan Al Qur'an dengan riwayat Israiliyat dengan dasar Hadits Nabi :
بلغوا عني ولو اية, وحدثوا عن بني اسرائيل ولا حرج, ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار(رواه البخاري)
"Artinya sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah apa yang kamu dengar dari Bani Isra’il, dan hal itu tidak ada Salahnya, dan barang siapa berdusta atas namaku maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya dineraka. (HR. Bukhori)"
dan juga dalam Hadits lain Beliau bersabda :
لاتصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا امنا بالله وماانزل الينا(رواه البخاري)
" Artinya : Janganlah kamu benarkan ahli kitab dan jangan pula kamu mendustakannya tapi katakan”kami beriman kepada Allah dan yang telah diturunkan kepada kami(HR. Bukhori)"
Dan berdasarkan Firman Allah :
" Artinya : Hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami Telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan Ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan Ini Maka hati-hatilah". barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al Maidah:41)"
Hadits dan Ayat Al Qur'an diatas terkesan ada pertentangan (Ta'arud), Hadits pertama terkesan mengizinkan periwayatan Israiliyat, sedangkan Ayat Al Qur'an melarang. Para ulama kemudian merumuskannya menjadi tiga[10] :

    1. Cerita Israliyat yang sesuai dengan syariat dapat dibenarkan dan kita boleh meriwayatkannya.
    2. Cerita yang bertentangan dengan syariat, harus ditolak dan kita haram meriwayatkannya, kecuali untuk menerangkan kesalahannya.
    3. Sedangkan cerita Israliyat yang didiamkan oleh syariat, jangan dihukumi dengan apapun juga, baik membenarkan maupun mendustakannya, dan boleh meriwayatkannya karena sebagian besar yang diriwayatkan itu kembali pada masalah cerita-cerita dan berita-berita, bukan pada masalah akidah maupun masalah hukum, adapun cara meriwayatkannya hanya sekedar mengemukakan hikayatnya saja.
  1. Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran
Masuknya riwayat Israliyat dalam penafsiran banyak menimbulkan pengaruh negatif pada umat islam [11] seperti:
    1. Merusak aqidah umat Islam seperti yang dikemukakan oleh Muqotil dan Ibnu Jarir tentang kisah Nabi Daud. dengan istri panglima (Uria) dan kisah Nabi Muhammad dengan Zainab binti Jahsy, yang keduanya mendeskriditkan para Nabi yang maksum serta menggambarkan Nabi sebagai pemburu nafsu seksual.
    2. Memberikan kesan bahwa islam itu agama khurafat, takhayyul dan menyesatkan. Hal ini tampak pada riwayat Al Qurtubi[12] ketika menafsirkan Firman Allah:
" Artinya:  (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, (Al Mukmin:7)"
dengan mengatakan, kaki Malaikat pemikul Arsy itu berada di bumi paling bawah, sedangkan kepalanya menjulang ke Arsy.
Memalingkan perhatian Umat Islam dalam mengkaji soal-soal keilmuan Islam, dengan larutnya umat Islam dalam menikmati kisah-kisah Israliyat, mereka tidak memikirkan hal-hal makro, seperti sibuk dengan nama dan anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu dari tongkat Nabi Musa a.s dan lain sebagainya, dimana perincian seperti itu tidak diutamakan dalam Al Qur'an karena memang tidak bermanfaat, karena kalau hal itu bermanfaat


[1] Ahmad Dimyati Badruzzaman, Kisah-kisah Israliyat dalam tafsir munir,Bandung Sinar baru Algesindo,2005, hal 46
[2] Mana’ Al Qatthan, Op.Cit hal 354
[3] Drs Abu Anwar, M.Ag, UlumulQur’an,, Sinar Grafika Offset, 2005,hal 106
[4] Hadits yang diriwayatkan Bukhori dari Ibnu Umar, No.3202 dalam Kitab Shohih Bukhori Bab Ahaditsun Nabi
[5] Hadits yang diriwayatkan Bukhori dari Abu Hurairah, No.4125 dalam Kitab Shohih Bukhori Bab Tafsirul Qur'an
[6] Mana’ Al Qatthan.Op.Cit,hal 354
[7] Ahmad Dimyati Badruzzaman. Op.Cit, hal 42
[8] Dr.Muhammad bin muhammad Abu syahbah,Al Israliyat wa al maudhuat fi kutub at tafsir,Maktabah sunnah,Mesir,1408 H,hal.106-108. Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Al Harani, Majmuatul Fatawi,Maktabah Taufuqiyah, Jeddah,tt,Vol 13 hal 208-209 bandingkan dengan ulumul qur'an Dr.H A.syadali M.A dkk.hal259-268
[9] Ahmad Dimyati Badruzzaman op cit.hal,48
[10] Ibnu Hajar Asyqolany,Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al Bukhori,Darul Fikr, Beirut,tt,Vol 6,Hal 388. Dr.Muhammad Abu Syahbah.Op.Cit. hal 107. Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah Al Harani,Op.Cit.hal 208-209
[11] Ibnu Qoyyum Al Jauziyah op cit.hal.276
[12] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farah Al Qurtubi,Al Jamu li al Akhkami al Qur'an,Dar Al Sya'bi, Kairo, 1372H,Vol 15 Hal,294

hadist akhlak terpuji

BAB I
PEMBAHASAN

            Kata “AKHLAK” berasal dari bahasa Arab “KHULQUN” yang berarti : Haalun linnafsi raasikhatun tashduru ‘anhaal af-‘aalu min ghairi haajatin ila fikrin wa rawayyatin, artinya : Suatu keadaan jiwa yang dapat melakukan tingkah laku tanpa membutuhkan banyak akal dan pikiran[1] dan dikhususkan untuk sifat dan karakter yang tidak dapat dilihat oleh mata. Sedangkan Al-Qurthubi berkata, Akhlak adalah sifat manusia dalam bergaul dengan sesamanya, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji, secara umum adalah menjadikan diri anda dan orang lain dalam diri anda lalu anda mengambil baktinya tetapi tidak mengabdi kepadanya. Detailnya adalah : lapang dada, lembut, sopan, sabar, saling mencintai, dan sebagainya. Sedangkan tercela adalah kebalikannya[2].
            Ibnu Al-Mubarak rahimahullah meriwayatkan ketika mendefinisikan tentang akhlak yang baik ia berkata, “Yaitu bermanis muka, melakukan kebaikan, dan menahan diri dari perbuatan buruk[3]”. Akhlak menempati kedudukan yang luhur dalam Islam, bahkan di antara misi utama agama ini adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi SAW :
اكمل المؤ منين ايمانا احسنهم خلقا
Artinya : “ Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya[4]
Dari penjelasan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai keimanan paling sempurna adalah apabila orang tersebut memiliki akhlak yang baik, karena dari akhlak yang baik akan menimbulkan hati yang bersih untuk beribadah dan menambah keimanan seseorang kepada Tuhannya. Bahkan akhlak yang baik menjadi penyebab terbanyak masuknya seorang hamba ke dalam surga, karena dengan begitu seorang hamba akan selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Akhlak terpuji (baik) mempunyai arti yang sangat luas dan banyak sekali contohnya, karena akhlak baik tidak hanya satu di dunia ini maka dari itu kami akan menjelaskan sebagian contoh hadis  tentang  akhlak baik.

A.    Jujur
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586[5] 
Perowi hadis di atas adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud salah seorang Assabiqun Al-awalaun (golongan yang pertama-tama masuk Islam), termasuk kalangan sahabat utama dan ahli fiqih, hafal dari Rasulullah saw 70 surat. Meninggal di Madinah tahun 32 H dalam usia 60 tahun.
As-shiddiq artinya sesuai antara perkataan dengan hati dan sesuai antara perbuatan dengan perkataan[6]. Para ulama berkata,” hadis di atas bermakna, bahwa jujur mengantarkan kepada amal shalih yang bersih dari setiap cela. Sedangkan al-birr, adalah sebutan untuk semua jenis kebaikan dan ada yang mengatakan bahwa itu adalah surga, sedangkan kedustaan bisa menimbulkan kejahatan.
      Jujur termasuk unsur terpenting dalam kehidupan social, disamping sebagai landasan utama struktur masyarakat. Tanpa adanya kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat, maka akan terurailah ikatan masyarakat dan hubungan antar sesama manusia. Kita tidak dapat membayangkan betapa buruknya gambaran pergaulan masyarakat jika tidak disertai dengan kejujuran. Sesungguhnya, kejujuran telah menjadi fitrah manusia. Sebagai contoh, jika kita menceritakan tentang orang yang jujur dan orang yang dusta kepada anak kecil, maka ia akan lebih menyukai orang yang jujur dan membenci yang pendusta[7].
Makna Secara Umum:
Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta  dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memiliki sifat akan berlanjut menjadi sifat-sifat baik dan buruk tergantung individual masing-masing. Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke syurga serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka
Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits[8]:
1.      Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.
2.      Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.
3.      Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.
4.      Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.
5.      Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
6.      Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.
7.      Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.
8.      Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.
9.      Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

B.     Amar ma’ruf nahi mungkar
Islam merupakan agama yang paling sempurna karena Islam rahmat bagi semesta alam. Islam selalu mengajarkan sifat-sifat yang baik kepada hambanya bukan untuk berbuat jahat. Jika ada umat Islam berbuat kejahatan itu bukan kesalahan Islam akan tetapi kesalahan individual orang yang melakukan, karena Islam selalu memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar yang artinya berlomba-lombalah dalam kebaikan dan jauhilah kejahatan seperti dalam hadis rasulullah SAW bersabda :
عَن أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ[رواه مسلم]
Artinya :”Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. (Riwayat Muslim)[9].
Dari penjelasan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Allah SWT selalu memerintahkan hambanya untuk berbuat baik. Jika ada salah seorang diantara kalian melihat suatu kemunkaran maka Allah SWT mengingatkan agar kita merubahnya. Pertama, kita dapat merubahnya dengan mengingatkan saja jika tidak dapat maka dengan hatinya karena itu adalah selemah-lemahnya iman seseorang. Maka dari itu sesama muslim kita wajib mengingatkan dalam hal kemunkaran dan selalu mengajak dalam hal kebaikan agar kita semua memiliki iman yang kuat.


Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits[10]:
1.      Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
2.      Ridho terhadap kemaksiatan termasuk diantara dosa-dosa besar.
3.      Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
4.      Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
5.      Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.

C.    Membantu Sesama Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ      فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
(رواه مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa  yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.
(Riwayat Muslim)
Dari penjelasan hadis di atas sudah jelas bahwa Allah SWT akan selalu menolong hambanya jika dalam kesulitan apalagi jika hambanya selalu menolong orang lain Allah SWT akan member lebih dari apa yang telah ia lakukan.
Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits[11]:
1.      Siapa yang membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia dapatkan pada hari kiamat sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya di hari yang sangat sulit tersebut.
2.      Sesungguhnya pembalasan disisi Allah ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3.      Berbuat baik kepada makhluk merupakan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah Ta’ala.
4.      Membenarkan niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan pahala sehingga amalnya dan kesungguhannya sia-sia.
5.      Memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak akan terlaksana kecuali karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6.      Selalu membaca Al Quran, memahaminya dan mengamalkannya.
7.      Keutamaan duduk di rumah Allah untuk mengkaji ilmu.

D.    Memenuhi Janji
Janji adalah hutang jika kita telah berjanji pada seseorang maka kita harus bisa berusaha untuk menepatinya, karena jika kita mengingkarinya maka kita termasuk golongan orang munafiq. Mengingkari janji hukumnya haram antara sesama muslim, sekalipun terhadap orang kafir, lebih-lebih terhadap muslim. Jadi memenuhi janji termasuk keutamaan sementara mengingkarinya berdosa besar. Mengingkari janji ada dua macam : pertama, berjanji tapi didalam hatinya ada niat untuk tidak menepatinya, ini adalah perilaku paling buruk. Kedua, berjanji disertai niat untuk menepatinya. Namun setelah itu berubah sehingga tidak menepatinya tanpa udzur[12]. Dalam hadis rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ا ية المنا فق ثلاث : ادا حدث كدب وادا وعد اخلف وادا اؤتمن خان (متفق عليه)
Dari abu hurairah RA, bahwa rasulullah SAW bersabda,” tanda orang munafiq ada tiga :  apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat.”(HR. Muttafaq ‘alaih)[13]
            Pengertian hadis bahwa sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang dimiliki orang munafik. Orang yang memiliki sifat-sifat tersebut berarti menyerupai orang munafik dan berperilaku dengan perilaku mereka[14]. Yang dimaksud dengan “janji’ dalam hadis di atas adalah janji yang baik, adapun janji yang buruk maka lebih baik dibatalkan. Bahkan terkadang wajib ditinggalkan jika menimbulkan kerusakan.
E.     Diam atau Berkata Baik

Sabda Nabi SAW “ barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir “ maksudnya adalah keimanan yang sempurna, yakni keimanan yang dapat menyelamatkan dari adzab Allah dan mengantarkan kepada keridhaan-Nya.”maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau diam”, karena orang yang benar-benar beriman kepada Allah, takut terhadap ancaman-Nya dan mengharapkan balasan pahala-Nya serta selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jadi yang lebih penting adalah mengendalikan anggota tubuh, karena setiap anggota tubuh akan dimintai pertanggung jawaban. Dalam hadis rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ [رواه البخاري ومسلم]
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)[15].
Mengenai makna hadis sebagian ulama mengatakan, “apabila seseorang ingin berbicara, jika diperkirakan bahwa yang akan dibicarakannya itu bisa mendatangkan pahala baginya, maka hendaklah ia mengucapkannya. Tetapi jika tidak maka hendaklah menahan perkataannya, baik itu haram, makruh maupun mubah karena perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan (disukai untuk ditahan). Contoh didalam suatu pertengkaran atau perdebatan  kadang kita mengira bahwa seseorang yang diam adalah orang yang kalah tapi kadang–kadang orang yang diam itu berusaha untuk menahan perkataannya, mungkin karena dia tidak bisa merangkai kata-kata dengan baik akhirnya ia memilih untuk diam daripada menyakiti perasaan orang lain.
Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits[16]:
1.      Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2.      Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.
3.      Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya .
4.      Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
5.      Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
6.      Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
7.      Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.
8.      Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.
9.      Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
10.  Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.



[1] Diterjemahkan dan diulas oleh K.H. Kahar Mansyur, Bulughul Maram 2, cetakan I (Jakarta:1992) ,hlm 358
[2] Ahmad Mu’adz Haqqi, Syarah 40 hadits tentang akhlak, Pustaka Azzam (Jakarta : 2003), hlm 16
[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab sunannya, kitab Al Birr
[4] Opcit (62, h(2002))(4/362-363) ia berkata,”Hadis hasan shahih
[5] Ahmad Mu’adz Haqqi, Syarah 40 hadits tentang akhlak, Pustaka Azzam (Jakarta : 2003), hlm 167-168
[6] Fathul baari (10/507)
[7] Ahmad Mu’adz Haqqi, Syarah 40 hadits tentang akhlak, Pustaka Azzam (Jakarta : 2003), hlm 167-168
[8] http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09

[9] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitabnya shohih, Al-Iman/20, h(78), 1/69
[10] http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09

[11] http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09

[12] Jami’ Al Ulum (hlm.375)
[13] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya, Al Iman (24, 1/14) dan muslim dalam kitab shahihnya, Al Iman (125, h 107, 1/78)
[14] Shahih Muslim Bisyarh An-Nawawi (2/47)
[15] Ahmad Mu’adz Haqqi, Syarah 40 hadits tentang akhlak, Pustaka Azzam (Jakarta : 2003), hlm
[16] http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09